Home / SosBud

Kamis, 3 Maret 2022 - 20:01 WIB

Sifat Hakikat Manusia

Sifat hakikat manusia merupakan ciri khas atau karakteristik dasar yang membedakan manusia dari hewan. Terdapat dua alasan mengapa di dunia pendidikan para pengajar wajib memahami hakikat manusia. Pertama, manusia merupakan objek dan subjek proses pendidikan sehingga para guru harus bisa memahami siapa manusia itu sebenarnya.

Alasan kedua berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu dan teknologi selalu bergerak ke dua arah, yakni hal positif dan negatif. Namun, teknologi dan ilmu tidak boleh merugikan eksistensi manusia. Dengan demikian, sangat wajar apabila para ilmuan dan penemu mempertimbangkan sifat hakikat manusia dalam bidangnya.

Setidaknya terdapat delapan wujud sifat hakikat manusia:

a. Kemampuan menyadari diri

Manusia menyadari bahwa dirinya memiliki karakteristik atau ciri yang khas untuk dibedakan dengan orang lain atau bahkan makhluk lain. Kemampuan ini membuat manusia memiliki kemampuan menyadari diri ke arah luar dan dalam.

Kemampuan menyadari diri ke arah luar merupakan kemampuan manusia dalam memandang linkungan sebagai objek. Lingkungan apa yang ingin manusia wujudkan? Kegiatan ini memunculkan rasa ego atau keinginan.

Kamampuan menyadari diri kea rah dalam lebih berkaitan dengan pandangan manusia terhadap posisinya di lingkungan yang selalu berkaitan dengan ego orang lain. Hasilnya, manusia bisa memunculkan sifat pengorbanan, tenggang rasa atau toleransi.

Baca juga:  Hasil Kebudayaan Masa Praaksara Indonesia

b. Kemampuan bereksistensi

Kemampuan manusia untuk menerebos hal yang membelenggunya, baik itu berupa ruang ataupun waktu. Sifat hakikat manusia ini bisa kita jumpai melalui media sosial dimana orang-orang memiliki kebebasan untuk berekspresi.

Sifat hakikat ini tentu perlu dibina melalui pendidikan untuk mengantisipasi keadaan atau peristiwa yang muncul di masa depan akibat eksistensi manusia.

c. Kata hati

Kata hati atau hati nurani adalah kemampuan diri manusia untuk menentukan baik atau buruk. Dengan kata lain, hati nurani berperan penting dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, sifat hakikat manusia perlu didukung oleh kecerdasan akal budi.

d. Moral

Moral adalah perbuatan yang baik atau buruk. Moral merupakan perwujudan sikap dan terkait dengan kata hati. Perbuatan yang baik atau benar selalu diarahkan oleh kata hati yang tajam, yakni nurani yang dibimbing oleh akal budi.

Sebaliknya, moral yang buruk merupakan hasil dari kata hati yang kurang tajam yang terkadang dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu saja, seperti mementingkan diri sendiri.

Moral bisa juga disebut dengan etika, tapi berbeda dengan etiket. Etiket secara khusus berkaitan dengan sopan santun atau moral yang baik/benar saja.

e. Tanggung jawab

Sifat hakikat manusia selanjutnya yakni bertanggung jawab, kesediaan menganggung akibat dari perbuatan yang dilakukan. Manusia sejatinya bertanggung jawab atas diri pribadinya, masyarakat dan/atau Tuhan.

Baca juga:  Sejarah Internet dan Perkembangannya di Indonesia

f. Rasa kebebasan

Semua manusia ingin selalu merasa bebas. Namun, rasa bebas tidak boleh bertentangan dengan kodrat manusia. Dengan kata lain ini, kebebasan manusia tidak 100% bebas alias terikat.

g. Kewajiban dan hak

Kewajiban dan hak merupakan dua hal yang timbul akibat dari hubungan manusia dengan manusia lainnya dan selalu muncul berpasangan. Ketika si A memiliki kewajiban, maka ada hak orang lain yang terikat. Hak bersifat “kosong”. Terkadang seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki suatu hak dan terkadang ada pula orang yang sadar dengan haknya, tapi tidak menggunakannya.

Kewajiban merupakan suatu keharusan sehingga ini yang membuat manusia tidak merdeka atau memiliki kebebasan 100%.

h. Kemampuan menghayati kebahagiaan

Sulit untuk menjabarkan sifat hakikat manusia satu ini. Kebahagian merupakan perpaduan dari pengalaman-pengalaman manusia sehingga setiap manusia memiliki aspek atau hal berbeda yang mempengaruhi kemunculan kebahagiaan dalam hidupnya.

Terkadang bahagia tidak dibatasi oleh kejadian atau proses, tapi bagaimana seseorang menghayati kejadian dan prosesnya yang terikat pada usaha, norma, dan takdir.

Referensi:

Tirtarahardja, U. & La Sulo, S. L. 2005. Pengantar pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Share :

Baca Juga

kerajaan-kerajaan masa hindu budha di indonesia

SosBud

KERAJAAN-KERAJAAN MASA HINDU BUDHA DI INDONESIA
nilai-nilai budaya masa praaksara

SosBud

Hasil Kebudayaan Masa Praaksara Indonesia
nilai-nilai budaya masa praaksara

SosBud

Nilai-nilai Budaya Masa Praaksara di Indonesia
kenapa ips perlu dipelajari

SosBud

Kenapa IPS Perlu Dipelajari?
sejarah internet

Berita

Sejarah Internet dan Perkembangannya di Indonesia
contoh hak dan kewajiban

SosBud

Contoh Hak dan Kewajiban dalam Aspek Kehidupan
sejarah halloween

Berita

Sejarah Halloween: Asal Mula, Makna, dan Tradisi