Home / Berita

Jumat, 4 Februari 2022 - 15:05 WIB

Kelemaham taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom merupakan suatu kerangka pendidikan yang menjadi acuan kurikulum saat ini dalam mengembangkan tujuan pembelajaran. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom bersama rekan-rekannya pada tahun 1956. Kemudian mendapatkan revisi oleh Anderson beserta rekan pada tahun 2001.

Taksonomi Bloom secara umum mengelompokan aktivitas-aktivitas berfikir berdasarkan tingkat kompleksitasnya. Mulai dari aktivitas paling sederhana, mengingat, hingga yang paling kompleks, mencipta. Taksonomi ini juga menampilkan kata kerja kunci yang mendemonstrasikan tiap kategori proses berfikir sehingga membantu para pengajar untuk menyelaraskan tujuan pembelajaran dengan proses belajar dan ujian.

Kemudahan itu membuat Taksonomi Bloom banyak diterima dan diterapkan di berbagai kurikulum pendidikan di dunia. Akan tetapi, beberapa kritik mulai bermunculan seiring berkembangnya penelitian di bidang kognisi dan pembelajaran. Tulisan ini menyajikan beberapa kelemaham taksonomi Bloom.

Proses berfikir tidak berurutan seperti hirarki

Kritikan pertama berkaitan dengan ciri taksonomi Bloom yang biasa dipresentasikan sebagai hirarki. Itu artinya tiap proses berfikir bertingkat dari paling sederhana ke paling kompleks. Dengan kata lain, untuk mencapai proses mecipta seseorang harus terlebih dahulu melalui proses berfikir di bawahnya seperti mengevaluasi, menganalisa, mengingat dsb. Sayangnya, proses belajar tidak demikian.

Berger (2018) memberikan argumentasi bahwa terkadang proses berfikir manusia saat belajar tidak berurutan seperti yang digambarkan dalam taksonomi Bloom. Terkadang, seseorang langsung mempraktekan suatu pengetahuan dan melalui proses memahami di akhir pembelajaran. Kita biasa mengenalnya sebagai learning by doing.

Contoh, seseorang bisa saja langsung mengikuti langkah-langkah dalam sebuah tutorial walaupun dia tidak begitu paham dan dia baru benar-benar paham sesaat setelah mengikuti tutorial tersebut hingga beres. Nah, kejadian itu menunjukan proses belajar yang bisa dimulai dari tahap menerapkan menuju tahap memahami.

Baca juga:  Taksonomi Bloom: Pengertian, Tabel, Kelemahan dan Kelebihan

Contoh lain, ketika seorang pelajar menulis suatu esai maka dia dikatakan sedang dalam proses mencipta, proses berfikir paling kompleks. Namun, apakah dia sudah benar-benar melalui proses memahami atau malah sedang dalam proses memahami? karena biasanya tugas membuat esai bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, bukan hanya sekedar menciptakan atau mengembangkan suatu ide. Di sini lah ketimpangan proses berfikir pada taksonomi Bloom terlihat dan menjadi kritikan ke-2 dalam tulisan ini.

Ketimpangan proses berfikir pada taksonomi

Case (2013) menjelaskan bahwa proses memahami yang dikategorikan sebagai proses berfikir tingkat bawah pada taksonomi sebenarnya sama kompleksnya atau malah lebih kompleks dibandingkan dengan proses berfikir tingkat tinggi, seperti mencipta, mengevaluasi, dan menganalisa.

Kegiatan mendeskripsikan atau mencari ide pokok termasuk ke dalam proses memahami yang digambarkan sebagai proses berfikir sederhana. Namun, jika diamati lebih dalam, untuk memahami sesuatu, seseorang akan melakukan proses analisa dan evaluasi terlebih dahulu atas apa yang dia lihat. Sehingga, bisa dikatakan bahwa proses memahami bisa saja memiliki tingkat kompleksitas yang sama dengan proses berifkir tingkat tinggi lainnya.

Mengevaluasi tidak sama dengan opini

Proses mengevaluasi melibatkan aktivitas kritikan. Proses ini memperlihatkan seseorang yang mencari kelemahan dari suatu hal atau mencari alasan dan pembenaran berdasarkan standar tertentu. Banyak pengajar kemudian mengasosiasikan proses tersebut dengan kegiatan memberikan pendapat.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, ada hal yang perlu ditekankan bahwa opini yang dihasilkan tanpa proses pencarian alasan dan hanya bertumpu pada insting atau proses berfikir singkat yang tidak matang bukan termasuk hasil proses (Bloom et al., 1956, 186).

Hal tersebut telah dijelaskan oleh Bloom sendiri, tapi masih banyak kesalahpahaman pada proses belajar. Dengan demikian deskripsi proses mengevaluasi perlu penekanan lebih detail.

Penggunaan istilah yang berkesan negatif

Penggunaan istilah proses berfikir “tingkat tinggi” dan “tingkat rendah” berpotensi disalahartikan oleh banyak pengajar. Munzenmaier dan Rubin (2013) menekankan bahwa istilah tersebut mengurangi nilai dari proses berfikir tingkat rendah. Akibatnya, banyak pengajar yang berfikir untuk mengurangi pertanyaan proses berfikir tingkat rendah dan terus fokus pada pertanyaan proses berfikir tingkat tinggi.

Baca juga:  Sejarah Internet dan Perkembangannya di Indonesia

Kenyataannya, kemampuan berfikir tingkat rendah sama pentingnya seperti kemampuan berfikir tingkat tinggi. Berdasarkan penelitian dari Agarwal (2019), pertanyaan-pertanyaan kombinasi antara kemampuan berfikir tingkat rendah dan tinggi menunjukan hasil yang positif terhadap perkembangan kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Dengan demikian, para pengajar tidak perlu memandang rendah proses-proses berfikir di tingkat bawah. Hendaknya pertanyaan atau kemampuan yang dikembangkan di kelas disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan keaadaan murid.

Sekian beberapa kelemaham taksonomi Bloom dari berbagai sumber yang terhimpun. Sebagai catatan, berikut referensi terkait kelemaham taksonomi Bloom.

Agarwal, P. K. (2019). Retrieval practice & Bloom’s taxonomy: Do students need fact knowledge before higher order learning? Journal of Educational Psychology, 111(2), 189–209. https://doi.org/10.1037/edu0000282

Anderson, L. W., Krathwohl, D. R., Airasian, P. W., Cruikshank, K. A., Mayer, R. E., Pintrich, P., Raths, J., & Wittrock, M. C. (2001). A Taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Addison Wesley Longman, Inc.

Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals, handbook 1 codnitive domain. Longmans, Green & Co Ltd.

Berger, R. (2018, March 14). Here’s what’s wrong with Bloom’s taxonomy: A deeper learning perspective. Education Week. https://www.edweek.org/education/opinion-heres-whats-wrong-with-blooms-taxonomy-a-deeper-learning-perspective/2018/03

Case, R. (2013). The unfortuate consequences of Bloom’s taxonomy. Social Education, 77(4), 196–200.

Munzenmaier, C., & Rubin, N. (2013). Bloom’s taxonomy: What’s old is new again (Perspective, p. 20) [Research report]. The Learning Guild Research.

Share :

Baca Juga

perbedaan jurusan sastra dan pendidikan

Berita

Apa Saja Persyaratan Pendaftaran CPNS?
tempat les bahasa Inggris di Garut

Berita

Daftar Tempat Les Bahasa Inggris di Garut
kemampuan abad ke-21

Berita

Apa itu Kemampuan Abad ke-21?
perbedaan jurusan sastra dan pendidikan

Berita

Perbedaan Jurusan Sastra dan Pendidikan Bahasa
taksonomi bloom

Berita

Taksonomi Bloom: Pengertian, Tabel, Kelemahan dan Kelebihan
PMB pascasarjana UPI

Berita

Mau Melanjutkan Kuliah ke Pascasarjana UPI? Baca Dulu
efl curriculum

Berita

Selecting Contents of EFL Curriculum
Jasa Penerjemah

Berita

Jasa Penerjemah Bahasa Inggris di Garut