Home / Opini

Sabtu, 6 Agustus 2022 - 11:51 WIB

Hambatan dalam Mengajar Daring

Hambatan dalam mengajar daring banyak dirasakan oleh pengajar. Pembelajaran daring berlangsung secara masif semenjak pandemi menghantam sekitar dua tahun yang lalu. Kreativitas dan kecakapan teknologi menjadi hal wajib. Masih ingat saat awal-awal diberlakukannya pembatasan sosial, badan usaha yang tidak memiliki dua kemampuan tadi ‘dipaksa’ tumbang tergantikan oleh mereka yang mampu dan cakap dalam menggunakan teknologi pendukung kegiatan jarak jauh.

Sebagai seorang pengajar, saya sangat tidak menyukai masa-masa itu. Belajar daring? Apakah ini bercanda? Rasanya ingin tertawa dan menangis. Bukan bermaksud mengeluh, tapi realita menertawakan para pengajar di daerah seperti saya.

Berapa banyak kuota yang diperlukan? Berapa uang ekstra yang perlu dikeluarkan? Dari segi finansial saja keadaan itu seperti lebih besar pasak dari pada tiang. 

Pembiayaan 

Menyelenggarakan pembelajaran melalui video conference sangat memakan banyak kuota internet. Satu jam pertemuan video conference bisa menghabiskan sekitar 500MB – 1,5GB. Saat itu, saya mengajar rata-rata 5 jam sehari sehingga perlu sekitar 5GB per hari atau 25gb per minggu atau 100GB sebulan.

Betul, pemerintah memberikan bantuan kuota pendidikan. Apakah itu sudah cukup? Ternyata tidak. Dengan demikian, guru dan siswa harus menghemat kuota dengan cara:

  • Melakukan video conference seminggu sekali atau sebulan sekali
  • Mematikan kamera saat melakukan pertemuan virtual

Keterbatasan ini membuat guru dan peserta didik tidak mendapatkan pengalaman belajar secara optimal. Banyak sekali orang tua yang mengeluh dalam mengajar anak-anaknya di rumah karena guru hanya mengirimkan materi dan tugas melalui WhatsApp atau Google Classroom.

Seiring para orang tua mengambil alih tugas guru, mereka agaknya sedikit berat hati saat membayar uang pendidikan (SPP). Penghasilan turun drastis selama pandemi, bahkan ada pula yang kehilangan pekerjaan. Selain itu, mereka juga harus mengeluarkan biaya ekstra terkait akses internet dan perangkatnya.

Saya pikir dengan banyaknya orang yang mulai ‘melek’ internet hingga ke pelosok, harga paket internet akan menurun. Nyatanya tidak. Saya harus menggunakan provider plat merah karena sinyal dan hingga saat ini mereka terus menaikan harga paket internet.  

Pembelajaran daring masih menjadi sesuatu yang mahal.

Koneksi internet tidak stabil

Penyelenggaraan kegiatan tatap muka saat ini menyisakan sedikit kelas daring. Kuota bukan menjadi masalah utama lagi. Namun, saya harus mengakui bahwa saya masih belum terbiasa dengan lingkungan daring. Aplikasi yang digunakan hanya sebatas Zoom dan presentasi ala-ala zaman kuliah dulu.

Masalah saat ini berkaitan dengan kestabilan koneksi. Kestabilan koneksi rasanya malah lebih parah dibandingkan dulu. Sangat sulit rasanya membangun interaksi dengan peserta didik.Terkadang, saya tidak bisa terhubung sehingga sering kali waktu belajar habis untuk menunggu.

Kemandirian siswa

Masalah ini datang dari siswa sendiri. Belajar daring atau tatap muka perilaku dan motivasi belajar siswa memang sering naik turun. Khusus siswa di kelas daring saya, kebanyakan dari mereka berada di situasi yang sering menurun.

Saya sering mendapati siswa sedang di luar rumah atau sedang dalam perjalanan saat belajar daring. Lingkungan yang tidak mendukung dan kesiapan siswa yang kurang baik menjadi hal yang membuat mood mengajar drop.

Saya pikir salah satu kunci kesuksesaan dalam belajar daring adalah kemandirian siswa dalam belajar. Bukan berarti siswa harus bisa belajar sendiri, tapi lebih pada kemampuan dan tanggung jawab siswa terhadap kegiatan belajarnya. Jangan harus selalu diinstruksikan oleh guru.

Tiga poin di atas adalah hambatan utama saya dalam mengajar daring. Mudah-mudahan pembiayaan dan kualitas internet di negara kita bisa lebih baik dalam waktu dekat sehingga bisa fokus mengembangkan pembelajaran yang mendorong kemandirian siswa.

Share :